Kekerasan Seksual di KPI, Ini Dampak Beratnya bagi Korban - Dampak yang dialami oleh pegawai di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang mengalami perundungan hingga kekerasan seksual, tidak bisa dianggap remeh. Tidak hanya psikologis, bahkan trauma yang dialami korban sudah mengganggu kesehatan.
Seksolog, dr. Haekal Anshari, M. Biomed (AAM), memaparkan, dampak pertama yang dialami oleh korban adalah trauma seksual.
"Yang pertama adalah trauma seksual. Bahkan korban didiagnosa PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Itu merupakan stres yang cukup berat bahkan sampai mengganggu fungsi tubuh lainnya. Korban juga mengalami gangguan fungsi lambung (GERD), jadi ada trauma fisik juga di situ," ungkapnya saat dihubungi VIVA, Kamis 2 September 2021.
Kemudian menurut dokter Haekal, dampak psikologis juga turut dirasakan oleh korban. Salah satunya, dia menjadi kehilangan kepercayaan diri, bahkan merasa dirinya tidak berharga lagi.
"Sebetulnya dia sudah mulai speak up, saya harap korban jangan sampai identitasnya diketahui masyarakat. Meskipun sebagian ada yang berempati, tapi pasti ada sebagian yang akan berpandangan berbeda dan nantinya akan membentuk stigma di masyarakat," kata dr. Haekal.
Untuk itu, Haekal meminta agar kita turut membantu melindungi identitas korban. Justru menurut Haekal, yang harus diungkap adalah identitas pelakunya.
"Supaya dia mendapatkan hukuman sosial, karena kalau hukuman fisik saja itu gak cukup. Mereka harus mendapatkan hukuman sosial berupa dengan diungkap identitasnya secara terbuka. Agar masyarakat tahu bahwa mereka adalah pelaku, predator dari kekerasan seksual," ujar dr. Haekal.
Berkaca pada kasus tersebut, Haekal mengatakan bahwa pendidikan seks atau pendidikan dalam keluarga terkait bullying harus sudah diajarkan atau dicegah sejak dini.
"Dicegah sejak anak-anak masih kecil. Ingat anak-anak itu ibarat gelas kosong yang diisi orangtuanya. Terkadang tanpa kita sadari tindakan bully bahkan bisa dimulai dari mulut orangtuanya. Misalnya ketika si anak katakanlah bertubuh tambun, kemudian ibunya mengatakan 'ikh kok kamu gendut banget sih' atau manggil anaknya si gendut, si gemuk, itu gak boleh," jelasnya.
"Membandingkan anak kita dengan yang lain, itu juga memicu tindakan bully-membully, tindakan superior dan sebagainya. Makanya penting sekali pendidikan pendekatan di tingkat keluarga pada saat anak-anak masih kecil," tutup dr. Haekal Anshari.












0 Komentar